Mengenal Mangupa Upa, Sebuah Tradisi dari Tanah Batak

Salah satu ritual adat dari Sumatera Utara yang masih ada hingga kini dan terus dilestarikan adalah tradisi Mangupa Upa. Mangupa Upa secara sederhana bisa disamakan dengan prosesi syukuran yang penuh akan doa dan nasihat dari para sesepuh atau orang tua.

Sebagai bagian dari budaya Batak yang memiliki banyak sub-suku, tradisi Mangupa Upa tidak hanya hadir dalam satu versi, tetapi terdapat dua versi menurut Batak Toba dan menurut keturunan Mandailing.

 

Antara Mangupa Upa versi Batak Toba dan Mandailing

Sebenarnya antara kedua proses Mangupa Upa baik yang dilakukan oleh Batak Toba maupun Mandailing hampir mirip dan sama-sama penuh akan makna.

Mangupa Upa akan dilaksanakan pada saat-saat apapun yang dianggap perlu doa dan petuah dari leluhur ataupun orang tua. Selain itu, Mangupa Upa juga bisa dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas sesuatu yang telah terjadi.

Tradisi Mangupa Upa juga mempunyai makna sebagai permintaan kepada Yang Maha Kuasa agar tidak terjadi peristiwa buruk dan tidak akan terulang kembali.

Pada keturunan Mandailing, mereka mengadakan Mangupa Upa juga untuk mengembalikan roh agar dapat kembali ke tubuh manusia tersebut atau yang disebut dengan Mulak Tondi Tu Ruma.

Namun, sama seperti sebelumnya, Mangupa Upa oleh Suku Mandailing juga untuk memohon kepada Tuhan agar selalu selamat dan diberi rezeki.

Mangupa Upa biasanya dilaksanakan saat akan mengadakan pernikahan, khitanan, kelahiran bayi, atau saat akan menempati rumah baru. Selain itu, Mangupa Upa juga bisa dilaksanakan karena selamat dari bencana, disembuhkan dari penyakit, dan saat mencapai keberhasilan atau prestasi sebagai wujud rasa syukur.

 

Makna dibalik Tradisi Mangupa Upa

Ketika melakukan Mangupa Upa, akan dijumpai berbagai sajian atau makanan yang disebut dengan upa-upa. Dalam hal sajian inilah yang membedakan Mangupa Upa oleh masyarakat Batak Toba dan Mandailing.

Misalnya, saat mengadakan Mangupa Upa karena pernikahan, masyarakat Batak Toba selalu menyajikan ikan mas yang dibumbui dengan bumbu khas Batak yang disebut dengan arsik.

Sesepuh dan orang tua hingga semua yang hadir dalam prosesi Mangupa Upa akan mengelilingi arsik tersebut dan menyentuhnya. Apabila tidak dapat mengambil arsik, cukup dengan menyentuh orang lain yang bisa mengambilnya.

Proses itu tidak boleh terputus atau berhenti hingga semua yang hadir mulai dari sesepuh, orang tua, hingga orang biasa mendapatkan kesempatannya semua.

Masyarakat Batak Toba memilih ikan mas sebagai sajian utamanya karena ikan mas sebagai simbol agar pasangan pengantin bisa menjadi keluarga yang bahagia, saling menyayangi, dan mendapat anak yang baik serta cerdas.

Sedangkan pada keturunan Mandailing, makanan yang disajikan lebih banyak dan beragam. Sajian tersebut mulai dari ikan, daging, kambing, telur ayam, beras, sirih, dan daun pisang sitabar.

Setiap makanan mempunyai maknanya masing-masing. Ikan sebagai simbol agar pengantin selalu tanpa konflik, daging kambing menyimbolkan keperkasaan, dan telur ayam sebagai simbol dari sumber kehidupan.

Daun pisang sitabar memiliki makna agar pernikahan cukup dilakukan sekali saja sedangkan beras dipilih sebagai simbol untuk pengantin agar bisa memilih jalan mana yang penuh kebaikan atau keburukan.

Orang yang mengupa dan yang di upa-upa akan berhadapan satu sama lain lalu nantinya orang yang di upa-upa, dalam hal ini pengantin, akan mencicipi sajian makanan dilanjutkan dengan pelantuan doa dan nasihat oleh pengupa.

Proses Mangupa Upa sarat akan nilai-nilai religi sekaligus nilai sosial. Melalui tradisi Mangupa Upa, masyarakat Batak akan tetap saling mengenal dengan sanak saudara dan keluarga besarnya meski sudah berbeda generasi sekalipun sehingga tetap menjaga silaturrahmi.

Tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur ini tidak hanya dijumpai di Sumatera Utara saja. Masyarakat Batak menyadari begitu pentingnya melestarikan adat dan tradisi, jadi meskipun mereka sudah meninggalkan kampung halaman, mereka tetap melaksanakan Mangupa Upa.